Sekolah Rakyat Cetak Agen Perubahan Pemutus Mata Rantai Kemiskinan

Berita63 Dilihat
banner 468x60

Sukoharjo,msinews.com-Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono mengunjungi SMA CT Arsa di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah pada Jum’at (17/1/2024).

Adapun, kunjungan tersebut dalam rangka  mempelajari konsep sekolah bagi anak-anak keluarga miskin yang selama ini telah dijalankan oleh CT Arsa Foundation.

banner 336x280

“Niat kami memang belajar, niat kami memang ingin melihat secara langsung dan mudah-mudahan dari sini kita akan bisa tindak lanjuti beberapa langkah konkretnya,” kata Mensos.

Dijelaskan, kedatangannya merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membangun sekolah rakyat yang diperuntukkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin ekstrem.

Menurutnya, melalui sekolah rakyat itulah, anak-anak akan menjadi agen perubahan yang bisa memutus mata rantai kemiskinan dan mengangkat kehidupan keluarganya.

“Di sini (SMA CT Arsa), mereka tampak punya rasa percaya diri yang luar biasa, optimis dan mereka punya cita-cita. Kalau semuanya lancar, dia akan jadi agen perubahan untuk keluarganya, untuk komunitasnya, untuk lingkungannya,” ujarnya usai meninjau berbagai fasilitas di sekolah tersebut.

Sementara itu, Pembina SMA CT Arsa Foundation Prof. Mohammad Nuh mengungkapkan salah satu upaya untuk memutus mata rantai kemiskinan adalah melalui pendidikan yang berkualitas. Karenanya pembangunan sekolah rakyat bisa mengambil contoh dari SMA CT Foundation yang memiliki konsep serupa kemudian mengembangkan konsep tersebut dengan konsep yang ada di Kementerian Sosial dan arahan Presiden Prabowo.

“Nah, di sini sudah terbukti. Kita replikasi, kita sesuaikan dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang sekarang ini,” kata Prof. Nuh yang juga mantan Ketua Dewan Pers itu.

Ia menambahkan, untuk mematangkan konsep sekolah rakyat tersebut, K akan terus berdiskusi dengan pihak-pihak yang kompeten, sekaligus berbagai lembaga dan institusi yang memiliki kompetensi dan kewenangan di bidang pendidikan.

“Kami perlu berdiskusi dengan pihak-pihak yang kompeten, yang memahami betul dunia peperti Prof Muhammad Nur ini,” tutupnya. **

Editor : dese lewuk.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *