Tokoh Masyarakat Bima, Sirajudin : Herman Yoseph Fernandez Layak Dianugerahi Pahlawan Nasional

Nasional103 Dilihat
banner 468x60

Diasporasatu.Com,Jakart-Tokoh masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat, Sirajudin, S.H., menyatakan,kiprah Herman Yoseph Fernandez, anggota Tentara Pelajar yang gugur di Sidobunder, Jawa Tengah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di era revolusi fisik saat meletusnya Agresi Militer Belanda II pada 1948,layak dianugerahi Pahlawan Nasional.

“Sebagai generasi muda dari Timur khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB), kami sangat mendukung upaya pemerintah dalam memproses gelar Pahlawan Nasional terhadap Bapak Herman Yoseph Fernandez. Tentunya setelah melewati proses akademik dan persyaratan sebagaimana yang diatur terkait calon penerima anugera Pahlawan Nasional, “kata Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Barat,asal Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat,yang telah menetap di Manokwari ini, saat ditemui wartawan di Jakarta, Sabtu (1/2/2025).

banner 336x280

Dirinya merasa bangga mendengar, bahwa pihak panitia nasional dipimpin oleh salah satu keponakan kandung Herman Yoseph Fernandez, ibu Grace Siahaan Njo,bersama Tim tengah gencar menyelenggarakan seminar nasional maupun lokal serta mempersiapkan dokumen-dokumen terkait persyaratan pengajuan Herman Yoseph Fernandez, sebagai calon Pahlawan Nasiomal tersebut.

“Sebagai masyarakat NTB juga teman-teman dari komunitas Nusra yakni Bali,NTB,dan NTT di Papua Barat, mendukung penuh  perjuangan teman-teman Panitia Nasional Pengajuan Gelar Pahlawan Nasional kepada Bapak Herman Yoseph Fernandez. Setahu saya selain Bapak Herman Yoseph Fernandez juga masih ada sejumlah tokoh Nasional dari Flores yang layak dianugerahi Jasa Pahlawan Nasoonal,seperti Bapak Frans Seda,Tokoh kepolisian RI Anton Tifaona,Ben Mboi, Jakob Nuawea, dan  lainnya yang memiliki andil pada bangsa dan negara ini” tutur Sirajudin.

Sejak pertengahan tahun 2024 yang lalu, tim panitia pengajuan gelar Pahlawan Nasional Herman Yoseph Fernandez telah menyelenggarakan kegiatan seminar baik di Larantuka, Kabupaten Flores Timur tempat asal Herman Yoseph Fernandez, di Kupang, tingkat Provinsi dan Nasional di Jakarta.

Herman Yoeseph Fernandez 3 Juni 1925-31 Desember 1948

Herman Yoeseph Fernandez, Lahir di Bumi Flores, Dibentuk Budaya Lamaholot

Lahir pada 3 Juni 1925 di Ende, Flores, adalah putra keempat dari pasangan Marcus Suban Fernandez dan Fransisca Theresia Pransa Carvalho Kolin, yang beretnis Lamaholot.

Ayah dan ibunya asli Lamaholot kelahiran Larantuka. Sang ayah Marcus Suban Fernandez adalah seorang guru Sekolah Dasar Katolik (Vervolgschool/VVS), tamatan sekolah guru di Tomohon. Guru Marcus lalu dikirim oleh misi ke Ende untuk membuka sekolah di Ndona, Ende.

Adapun 12 saudara kandungnya adalah Sinyo Fernandez, Edmon Fernandez, Philomena Fernandez (Dra.Suster Emilia Fernandez, biarawati Ursulin di Jakarta), Herman Yosef Fernandez, Yeremias Fernandez, Aton Fernandez, Yosef Fernandez, M.Bernadeth Fernandez, Henricus Fernandez, Anna Fernandez, Nicholaus Fernandez, dan M.Grice Ferna.

Latar belakang sosial dan budaya Flores,terutama nilai-nilai Lamaholot, sangat membentuk kepribadiannya yang kelak mewarnai perjuangannya sebagai pemimpin dan tokoh nasional. Lamaholot dikenal dengan nilainilai seperti keberanian membela kebenaran, keterbukaan, gotong royong (gemohing), ketaatan terhadap aturan, dan penghargaan tinggi terhadap pendidikan.

Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan kepahlawanannya. Budaya Lamaholot memberikan kontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter Herman Fernandez.

Konsep gotong royong yang diwujudkan dalam gemohing mengajarkan solidaritas sosial dan kerja sama, yang menjadi elemen penting dalam perjuangannya melawan ketidakadilan.

Kubur Herman Yoseph Fernandez di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta

Sikap keterbukaan Lamaholot terhadap pengetahuan dan misionaris Eropa juga menumbuhkan semangat belajar dan dedikasi pada pendidikan dalam diri Herman. Sikap keberanian Lamaholot, yang mencakup keberanian fisik dan moral,tercermin dalam tindakantindakan Herman yang gigih memperjuangkan keadilan dan hak-hak masyarakat kecil. Di Flores pada masa itu adalah daerah terpencil yang sebagian besar penduduknya hidup dari pertanian.

Namun, interaksi budaya dengan dunia Barat melalui misionaris Katolik telah memperkenalkan sistem pendidikan modern yang kemudian diadopsi oleh keluarga Fernandez. Flores, khususnya Larantuka, adalah pusat pertemuan budaya Lamaholot,Portugis, Melayu, dan Cina, yang menciptakan lingkungan yang heterogen tetapi kohesif.

Dalam konteks ini, Herman belajar mengelola perbedaan dan membangun harmoni, kemampuan yang menjadi aset besar dalam perannya sebagai pemimpin.

Sebagai anak dari seorang guru, Herman tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Marcus Suban Fernandez, ayahnya, adalah figur panutan yang tidak hanya mendidik secara formal tetapi juga mengajarkan nilai-nilai moral.

Herman dibesarkan dengan disiplin dan pengetahuan agama yang kuat, memperkuat landasan etika dan spiritualitas yang menjadi pilar utama dalam perjalanan hidupnya. Herman Yoseph Fernandez menginternalisasi dan mempraktikkan nilai-nilai lokal Lamaholot dalam kiprahnya.

Keberanian, integritas, dan pengabdiannya terhadap masyarakat merupakan manifestasi langsung dari pendidikan keluarga dan budaya Flores yang membesarkannya. Ia mampu mengubah prinsip-prinsip tradisional menjadi inspirasi perjuangan nasional, menghubungkan nilai-nilai lokal dengan cita-cita kebangsaan.

Lingkungan keluarganya, nilai-nilai adat, dan pengaruh misi Katolik menciptakan landasan yang kokoh bagi perjalanan hidup Herman Yoseph Fernandez, sebagai pemimpin yang berdedikasi pada kemajuan masyarakat.
Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi pembentukan karakternya sebagai seorang tokoh nasional yang layak diusulkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. ** (domi lewuk/Sumber ; ringkasan eksekutif naskah akademik,Herman Yoseph Fernandaes : Cahaya dari Timur untuk Indonesia).

 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *