Bedah Film Cahaya dari Minang, Roehana Koeddoes Angkat Sosok Pelopor Pendidikan dan Perjuangan Wartawati Pertama Indonesia.

Nasional151 Dilihat

Jakarta, Diasporasatu.com – Semangat perjuangan perempuan Indonesia kembali digaungkan melalui bedah film dokumenter “Roehana Koeddoes: Cahaya dari Minang” yang digelar Perpustakaan Bang Hitam. Kegiatan ini menjadi bagian dari refleksi Hari Kartini sekaligus upaya mengenalkan kembali sosok Roehana Koeddoes sebagai pelopor pers perempuan di Indonesia.

Diskusi menghadirkan Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Yenny Narny, penulis dan sejarawan Hasril Chaniago, serta Pemimpin Umum Project Multatuli Evi Mariani. Acara dipandu anggota DPR RI Fraksi NasDem Lisda Hendrajoni, sementara pengantar diskusi disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.

Film dokumenter tersebut menyoroti perjalanan hidup Roehana Koeddoes, perempuan kelahiran Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884. Di masa ketika perempuan belum memiliki akses pendidikan yang layak, Roehana justru tumbuh menjadi sosok yang aktif mengajar dan memperjuangkan hak-hak perempuan melalui pendidikan serta media massa.

Sejak usia dini, Roehana telah menunjukkan kecerdasan dan kepedulian terhadap pendidikan. Pada usia delapan tahun, ia mulai mengajari teman-temannya membaca dan menulis. Ketika beranjak remaja, Roehana membuka kegiatan belajar di rumah neneknya untuk perempuan dan ibu rumah tangga yang tidak memperoleh kesempatan sekolah.

Perjuangannya kemudian berkembang ke dunia jurnalistik. Roehana menulis di surat kabar Suluh Timbul sebelum mendirikan Soenting Melajoe pada 1912, yang dikenal sebagai surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Lewat media itu, Roehana menyuarakan pendidikan, kesetaraan, adat, hingga persoalan sosial perempuan pada masa kolonial.

Selain bergerak di bidang pers, Roehana juga mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS), sebuah sekolah keterampilan dan pendidikan perempuan yang mengajarkan baca tulis, agama, budi pekerti, dan kerajinan tangan. Sekolah tersebut mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Hindia Belanda pada 1915.

Dalam diskusi, Yenny Narny menilai Roehana Koeddoes belum mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah nasional. Menurutnya, tokoh perempuan sering kali tenggelam dalam historiografi yang lebih banyak menonjolkan peran laki-laki.

“Roehana adalah perempuan yang bekerja dalam sunyi. Film ini membantu menghadirkan kembali sosoknya ke ruang publik dan membangun kesadaran sejarah tentang perjuangan perempuan,” ujar Yenny.

Ia juga menilai film dokumenter tersebut berhasil menggambarkan pergulatan batin Roehana sejak kecil, terutama keinginannya memperoleh pendidikan setara dengan laki-laki di tengah budaya patriarki saat itu.

Sementara itu, para pembicara menyoroti bahwa perjuangan Roehana masih relevan hingga sekarang. Meski perempuan masa kini memiliki ruang yang lebih terbuka, berbagai hambatan sosial dan stigma dinilai masih menjadi tantangan.

Roehana Koeddoes wafat pada 17 Agustus 1972 dalam usia 88 tahun. Atas dedikasinya dalam bidang pendidikan dan jurnalistik, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 2019.

Melalui film dokumenter dan diskusi tersebut, panitia berharap generasi muda semakin mengenal Roehana Koeddoes sebagai simbol keberanian perempuan Indonesia dalam memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir. (Widi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *