Jambi, Diasporasatu.com — Serangan siber yang melanda Bank Jambi pada akhir Februari 2026 menuai sorotan tajam dari berbagai pihak. Ekonom Usman Ermulan menilai insiden tersebut seharusnya dapat dicegah apabila pihak bank melakukan langkah antisipasi dan pengamanan sistem secara maksimal.
Menurut Usman, keamanan perbankan harus dibangun melalui sistem perlindungan berlapis, termasuk evaluasi rutin, pembaruan teknologi, serta pengujian terhadap potensi kerentanan. Ia menegaskan bahwa keamanan data dan sistem merupakan fondasi utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan.
“Semestinya Bank Jambi mengantisipasi risiko semacam ini jauh-jauh hari. Keamanan data dan sistem adalah pondasi utama kepercayaan masyarakat terhadap sebuah bank,” ujar Usman, yang juga menjabat Ketua IKAL Lemhannas RI Jambi, Senin (30/3/2026).
Dampak dari gangguan layanan tersebut terlihat dari membludaknya antrean nasabah di sejumlah kantor Bank Jambi. Banyak nasabah terpaksa datang sejak dini hari untuk melakukan penarikan tunai, menyusul belum optimalnya layanan ATM dan mobile banking.
Kelompok yang paling terdampak adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menerima gaji melalui rekening Bank Jambi. Kondisi ini membuat sejumlah ASN harus mengorbankan waktu kerja demi mengakses hak mereka.
Usman menilai pihak bank seharusnya mengambil langkah cepat untuk mengurai antrean, seperti menambah jumlah teller guna mempercepat pelayanan kepada nasabah.
“Seharusnya Bank Jambi juga menambah jumlah kasir dari lima menjadi sepuluh, misalnya, agar pelayanan lebih optimal, khususnya bagi ASN yang ingin mengambil haknya,” katanya.
Lebih jauh, ia menilai kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada ASN, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi daerah secara keseluruhan. Ketergantungan masyarakat terhadap layanan Bank Jambi membuat gangguan ini berimbas luas pada roda perekonomian lokal.
Usman yang merupakan mantan anggota DPR RI tiga periode di Komisi XI menegaskan bahwa dalam dunia perbankan, hilangnya kepercayaan masyarakat merupakan sinyal serius yang dapat mengarah pada krisis.
Ia menggambarkan, jika para ASN secara bersamaan menarik seluruh dana mereka dan memindahkannya ke bank lain, hal tersebut dapat memperburuk kondisi likuiditas bank.
“Hilangnya kepercayaan berarti sebuah bank berada di ambang kebangkrutan. Tidak mudah mengembalikan kepercayaan itu, bahkan dengan dana besar sekalipun,” tegasnya.
Sebagai bank daerah, lanjut Usman, Bank Jambi seharusnya menjadi penggerak utama ekonomi lokal, bukan justru menjadi beban bagi masyarakat dan aparatur pemerintahan.
Ia pun mendorong pemerintah daerah selaku pemegang saham untuk segera mengambil langkah tegas serta mencari solusi strategis guna memulihkan kepercayaan publik.
“Masyarakat tidak memahami indikator seperti CAR, NPL, atau ROA. Yang mereka butuhkan sederhana, yakni bagaimana bisa dengan cepat mengambil uang mereka,” pungkas Usman. (Widi.S)






