Kolaborasi dengan KBI, KRESHNA MEDIKA Kembangkan Rehabilitasi Stroke Berbasis Komunitas

Yayasan KRESHNA MEDIKA Dorong Pemulihan Stroke Holistik, Fokus pada Kesehatan hingga Kemandirian Ekonomi

Berita521 Dilihat

Jakarta, 27 Juni 2026, diasporasatu.com – Kehadiran Yayasan KRESHNA MEDIKA dalam Musyawarah Nasional (Munas) Komunitas BEPers Indonesia (KBI) 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antar komunitas kesehatan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya para penyintas stroke dan penyakit degeneratif.

Ketua Umum Yayasan KRESHNA MEDIKA, Haryanto Suryo Panguripan, mengatakan bahwa yayasan yang dipimpinnya mengembangkan pendekatan rehabilitasi stroke secara holistik yang tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga mencakup aspek sosial, spiritual, mental, dan ekonomi.

“Orang yang terkena stroke tidak hanya mengalami gangguan kesehatan, tetapi juga sering menghadapi tekanan ekonomi dan sosial. Banyak yang kehilangan pekerjaan, mengalami penurunan pendapatan, bahkan kehilangan semangat hidup. Karena itu pemulihan harus dilakukan secara menyeluruh,” ujar Haryanto saat ditemui di sela-sela Munas KBI 2026 di Jakarta.

Menurutnya, Yayasan KRESHNA MEDIKA mengembangkan model rehabilitasi pasca stroke holistik SHINE (Spiritual, Health, Inner Strength, Networking, Economic Empowerment) yang dirancang untuk membantu penyintas stroke bangkit kembali secara utuh.

Model SHINE merupakan pendekatan yang mengintegrasikan lima aspek penting dalam proses pemulihan. Spiritual (S) menekankan penguatan nilai spiritual dan kesadaran diri sebagai sumber ketenangan dan motivasi hidup. Health (H) berfokus pada pemulihan kesehatan melalui terapi medis, olahraga, pola hidup sehat, serta rehabilitasi berkelanjutan. Inner Strength (I) bertujuan membangun kekuatan mental dan kepercayaan diri dengan mencintai diri sendiri agar penyintas mampu menghadapi tantangan pasca stroke.

Sementara itu, Networking (N) mendorong terbentuknya jejaring sosial yang saling mendukung antara penyintas, keluarga, tenaga kesehatan, dan komunitas. Adapun Economic Empowerment (E) diarahkan untuk membantu penyintas memperoleh kembali kemandirian ekonomi melalui pelatihan keterampilan, penerapan konsep slow living dan kewirausahaan, serta pendampingan usaha.

“Melalui SHINE, kami ingin memastikan bahwa penyintas stroke tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga memiliki kekuatan mental, dukungan sosial, dan kemampuan ekonomi untuk kembali produktif,” kata Haryanto.

Pendekatan tersebut diterapkan tidak hanya bagi penyintas stroke, tetapi juga penderita penyakit degeneratif lainnya seperti diabetes, penyakit jantung, kolesterol tinggi, asam urat, tekanan darah tinggi, kanker, gangguan paru-paru, dan berbagai penyakit kronis yang membutuhkan pemulihan jangka panjang.

Haryanto juga menyoroti meningkatnya kasus stroke pada usia muda. Ia menyebutkan bahwa saat ini stroke tidak lagi identik dengan kelompok lanjut usia.

“Kami menemukan kasus stroke pada usia 14 tahun dan banyak juga terjadi pada usia produktif. Ini menjadi peringatan bahwa masyarakat harus semakin peduli terhadap pola hidup sehat dan upaya pencegahan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Harian Yayasan KRESHNA MEDIKA, Suhadi SH, menjelaskan bahwa organisasi yang berdiri sejak 2020 tersebut telah bekerja sama dengan berbagai rumah sakit pemerintah maupun swasta dalam memberikan layanan rehabilitasi dan pendampingan bagi penyintas stroke.

“Kami memiliki dua pusat layanan rehabilitasi serta mendampingi berbagai komunitas stroke di rumah sakit dengan fokus pada empat aspek pemulihan, yaitu fisik, mental, ekonomi, dan pemulihan secara utuh,” ujar Suhadi.

Saat ini Yayasan KRESHNA MEDIKA memiliki lebih dari 6.800 anggota yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Keanggotaannya tidak hanya diperuntukkan bagi penyintas stroke, tetapi juga keluarga, tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat umum yang tergabung dalam kelompok Masyarakat Peduli Stroke (MPS).

Selain memberikan pendampingan kesehatan, yayasan juga membantu para penyintas stroke memperoleh berbagai hak sebagai penyandang disabilitas sesuai ketentuan perundang-undangan. Melalui pendampingan tersebut, anggota dapat mengakses berbagai fasilitas layanan publik dan program bantuan pemerintah.

Dalam bidang pemberdayaan ekonomi, Yayasan KRESHNA MEDIKA menjadikan tahun 2026 sebagai momentum untuk memperkuat program pemulihan ekonomi bagi penyintas stroke. Program tersebut meliputi pendampingan UMKM, pelatihan kewirausahaan, hingga kerja sama dengan perbankan dan lembaga pemerintah.

“Kami ingin para penyintas stroke tetap produktif dan mandiri. Jangan sampai mereka hanya menjadi penerima bantuan, tetapi harus mampu bangkit dan memiliki usaha yang dapat menopang kehidupan keluarganya,” kata Suhadi.

Yayasan KRESHNA MEDIKA juga aktif mengembangkan berbagai aktivitas olahraga dan kebugaran sebagai bagian dari rehabilitasi. Salah satu yang dilakukan adalah kerja sama dengan Komunitas BEPers Indonesia melalui latihan BIOENERGYPOWER (BEP) yang dilaksanakan secara rutin.

Menurut Suhadi, metode olah napas dan olah gerak dalam BEP dinilai cocok bagi penyintas stroke karena dapat dilakukan sesuai kondisi fisik masing-masing peserta.

“BEP menjadi salah satu olahraga yang efektif karena bisa dilakukan sambil duduk, bersila, maupun berdiri. Latihan ini membantu meningkatkan kebugaran dan mendukung proses pemulihan secara lebih komprehensif,” ujarnya.

Ke depan, Yayasan KRESHNA MEDIKA menargetkan perluasan jejaring hingga tingkat internasional. Langkah tersebut didukung dengan keterlibatan yayasan dalam World Stroke Organization (WSO) serta penguatan kelembagaan melalui pembentukan Yayasan Duta KRESHNA Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan berbagai komunitas kesehatan, organisasi olahraga masyarakat, rumah sakit, dan pemerintah, Yayasan KRESHNA MEDIKA berharap dapat menjadi bagian dari solusi dalam menekan angka stroke sekaligus meningkatkan kualitas hidup para penyintas di Indonesia.

“Tujuan kami sederhana, yaitu membantu para penyintas stroke agar tetap sehat, produktif, mandiri, dan bermartabat. Mereka harus tetap memiliki kesempatan untuk berkarya dan menjalani kehidupan yang lebih baik. Dengan pendekatan SHINE, kami ingin menghadirkan pemulihan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan penyintas,” tutup Haryanto.

(Widya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *