Jakarta, Diasporasatu.com – Aliansi Perisai (Persatuan Rakyat Indonesia Anti-Imperialis) menggelar konferensi pers menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026. Dalam kesempatan tersebut, Perisai menegaskan komitmennya untuk menggelar rangkaian aksi dan kampanye yang akan berlangsung sejak 1 Mei hingga 21 Mei mendatang.

Rangkaian kegiatan ini disebut sebagai upaya membangun konsolidasi gerakan rakyat lintas sektor, mulai dari buruh, tani, mahasiswa, hingga organisasi masyarakat sipil. Aksi akan digelar secara serentak di sejumlah kota di Indonesia, termasuk di Jakarta dengan titik utama di kawasan DPR RI, serta melibatkan jaringan solidaritas di luar negeri.
Juru bicara Perisai, Saiful Alali, menyampaikan bahwa peringatan Hari Buruh tidak boleh dilepaskan dari sejarah panjang perjuangan kelas pekerja. Menurutnya, May Day merupakan momentum penting untuk mengingat kembali tuntutan dasar buruh, termasuk penerapan 8 jam kerja yang lahir dari perjuangan panjang melawan praktik eksploitasi.
“May Day harus dimaknai sebagai ruang konsolidasi dan perjuangan bersama. Bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk memperjuangkan hak-hak dasar rakyat,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Perisai menilai situasi sosial-ekonomi masyarakat saat ini menghadapi berbagai tantangan. Mereka menyoroti meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakpastian sistem kerja, serta tekanan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat di berbagai sektor.
Selain itu, isu agraria juga menjadi perhatian, dengan masih terjadinya konflik lahan di sejumlah daerah. Perisai menyebut bahwa persoalan tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan petani dan masyarakat adat.
Perisai juga menekankan pentingnya peran negara dalam menjamin kesejahteraan rakyat, termasuk dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan ketersediaan energi. Mereka menilai, berbagai persoalan yang muncul saat ini membutuhkan solusi komprehensif dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat luas.
Sementara itu, perwakilan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) wilayah DKI Jakarta Raya, Deodatus Fundase, menyoroti pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam merespons situasi nasional. Ia mengajak kalangan kampus untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi turut aktif dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat.
“Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai bagian dari kontrol sosial. Momentum May Day ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat solidaritas dan menyuarakan kepentingan rakyat,” katanya.
Perisai berharap rangkaian aksi yang digelar tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi mampu memperkuat kesadaran kolektif masyarakat terhadap berbagai persoalan yang dihadapi. Melalui momentum ini, mereka mendorong terbangunnya sinergi antar elemen gerakan rakyat dalam memperjuangkan keadilan sosial.
Dengan berakhirnya rangkaian aksi pada 21 Mei, yang bertepatan dengan peringatan Hari Reformasi, Perisai menargetkan adanya penguatan gerakan rakyat yang lebih luas dan terorganisir dalam merespons dinamika sosial, ekonomi, dan politik di Indonesia. (Widi)











